Breaking News

Tiga Kelompok WNA Pelaku Skimming di Indonesia, Amankan Rekening Bank Anda

Dua Kelompok WNA Pelaku Skimming di Indonesia, Amankan Rekening Bank Anda
AR News - Lagi-lagi prahara melanda kembali dunia perbankan kita. Awal maret 2018, tercatat sebanyak 87 orang nasabah BRI di kota Kediri melaporkan kehilangan sejumlah dana di rekening tabungannya. Kisaran dari senilai Rp 500 ribu sampai Rp 10 juta raib dari rekening mereka, padahal mereka tidak menarik sejumlah dana tersebut dari rekening tabungan mereka. Sebelumnya, hal serupa pernah terjadi pada tahun 2015 yang menimpa nasabah bank Mandiri. Lalu masih amankah kalau kita menyimpan dana tabungan kita di bank?

Dadi Kusnadi, Kepala BRI Kediri mengakui telah menerima sejumlah laporan dari nasabahnya. Pihak BRI pun berjanji akan mengganti sejumlah dana yang raib secara misterius dari rekening nasabahnya. Dadi mengatakan pembobolan rekening tersebut bisa terjadi dengan cara skimming (aktivitas yang berkaitan dengan upaya pelaku untuk mencuri data dari pita magnetik kartu ATM/debit secara ilegal untuk memiliki kendali atas rekening korban) yang dilakukan oleh para pelaku.


AKBP Aris Priyono, Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya memberikan keterangan bahwa telah ditangkapnya 4 WNA dan seorang WNI di tempat berbeda pada kasus yang sama, yakni kasus skimming. Mereka yang ditangkap adalah:
  1. CAITANOVICI ANDREAN STEPAN, warga negara Rumania, kelahiran Craiova - 4 Juni 1990, dengan no passport ROU 054888923.
  2. RAUL KALAI als LUCIAN MEAGU, warga negara Rumania, kelahiran Budapest - 24 November 1990, dengan no passport ROU 053858720.
  3. IONEL ROBERT LUPU, warga negara Rumania, kelahiran Bucuresti - 03 Januari 1990, dengan no passport ROU 054613859.
  4. FERENC HUGYEC, warga negara Hungaria, kelahiran Budapest - 27 Desember 1991, dengan no passport HUN BJ0278495.
  5. MILAH KARMILAH, warga negara Indonesia kelahiran Bandung 27 Agustus 1988, NO KTP : 3204116708880001.

Mereka berhasil ditangkap setelah dilakukan pencarian selama seminggu oleh tim subdit resmob Polda Metro Jaya unit 4 dibawah pimpinan Kanit AKP. Rovan Richard Mahenu S.IK, M.SI. Pada akhirnya mereka bisa ditangkap di 4 lokasi yang berbeda, yaitu di DE PARK Cluster Kayu Putih Blok AB 6 No.3 Serpong Tanggerang, di  Bohemia Vilage 1 No.57 Serpong Tanggerang, di Hotel Grand Serpong, Tangerang, dan di Hotel De’ Max Lombok tengah, Nusa Tenggara Barat.
.
Berikut barang bukti yang ikut diamankan tim subdit resmob Polda Metro Jaya dari tempat mereka dibekuk:

  • 1 (satu) buah DEEP SKIMMER
  • 1 (satu) buah ENCODER
  • 3 (tiga) buah SPY CAM
  • 1.447 (seribu empat ratus empat puluh tujuh) buah kartu atm yang telah diisi dengan data curian.
  • 21 (dua puluh) kartu atm Member Card.
  • 2 (dua) buah buku Paspor an Andrian Steven Caitanovici (rumania) & Ferenc Hugyec (hungaria).
  • 4 (empat) buah Kanopi Pin Pet
  • 6 (enam) SD Card merek sundisk
  • 6 (lima) buah baterai Merek Original Candy Pack
  • 4 (empat) buah Mulut  ATM (bezel)
  • 5 unit HP
  • 19 (sembilan belas) buah karet mulut atm (bezel)
  • 1 (satu) buah leptop merek Lenovo
  • 6 (enam) buah modem
  • 5 (lima) buah Hardisk
  • 5 (lima) buah Flasdisk
  • 2 (dua) buah Cripto Hadrwere Walet
  • 2 (dua) buah Double tip Merek 3M
  • 5 (lima) buah Lem Bakar
  • 3 (tiga) buah Lem Power Blue
  • 1 set kabel carger yg sudah di modifikasi
  • 1 (satu) buah Metabo Li-Power
  • 1 (satu) buah Solder
  • 1 (satu) buah penggaris ukur
  • 1 (satu) buah DVD room
  • 3 (tiga) kartu perdana Simpati.
  • 3 (tiga) buah active speaker yg sudah dimodifikasi untuk membawa kartu atm cloning, masing2 bermerek Sanken dan 2 (dua) Pure acoustic.
  • 1 (buah) bor porteble.
  • Sejumlah alat untuk membuat DEEP SKIMMER

MODUS OPERANDI yang Dilakukan Para Skimmer :

Tersangka sejak bulan Juli 2017 membuat alat skimmer dan seperangkat alat pendukung lainnya kemudian memasangnya di berbagai Atm di sekitar wilayah Bali, Bandung, Jogjakarta, Tangerang, dan Jakarta. Data yang di dapat dari alat skimmer digandakan di kartu atm kosong kemudian digunakan dengan cara datang ke atm, memasukkan nomer pin, selanjutnya para tersangka menarik tunai uang yang ada di atm. Hasil dari uang tersebut digunakan untuk keperluan sehari hari. Sejak mendapatkan informasi kejadian tersebut 1 (satu) tim unit 4 subdit 3 Resmob melakukan pengecekan tkp, rekaman CCTV dan melakukan introgasi saksi saksi, selanjutnya melakukan penangkapan kepada tersangka.

Terendus pula Kelompok Skimmer Lainnya, Mereka Berasal dari Turki dan Rusia

Kelompok Turki 

Selain kejadian pembobolan rekening bank BRI Kediri melalui skimming yang virall di media elektronik. Kali ini, Kota wisata Bali telah menjadi sasaran kejahatan dengan modus pembobolan rekening bank dengan skimming. Polda Bali pada minggu ini berhasil mengungkap 2 kejahatan yang melibatkan warga negara Turki dan Rusia. Setelah 4 WNA dan 1 WNI ditangkap seperti yang diulas di atas.

Didapat dari Liputan6 (16/3), bahwa Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Bali pada Sabtu, 10 Maret 2018 berhasil mengungkap kejahatan tersebut, setelah Reskrim Polda Bali melakukan investigasi terhadap jejak para penjahat berdasarkan laporan salah satu bank di Bali.

Penyelidikan awal dilakukan terhadap salah satu mesin ATM di Denpasar Bali. Hasil yang didapat Polda Bali pada saat itu, yakni adanya modifikasi di mesin ATM. Sehingga hal tersebut menimbulkan kecurigaan.

"Setelah dilakukan pengecekan oleh penyidik, kita menyimpulkan bahwa ini merupakan kejahatan skimming," kata AKBP Sugeng Sudarso, Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Bali  kepada awak media, Kamis (15/3/2018). Polisi lalu mencari tahu siapa yang memasang alat tersebut melalui closed circuit television (CCTV). Butuh waktu dua minggu untuk mempelajari dan mencari tahu siapa yang memasang alat skimming di mesin ATM tersebut.

"Akhirnya ditemukan satu warga negara asing yang gelagatnya mencurigakan. Dia juga lama berada di dalam gerai ATM tersebut," kata Sugeng. Polisi lalu mengumpulkan ciri-ciri yang dapat merujuk pada identitas tersangka. Gayung bersambut, tidak butuh waktu lama bagi polisi untuk mengetahui jejak pria yang diketahui dari Turki tersebut. Polisi baru menangkap para tersangka ketika mereka tengah beraksi menguras rekening korbannya.

"Kami tangkap dua orang warga negara Turki, lalu dikembangkan dengan membawa ke hotel yang mereka tinggali di Nusadua," beber Sugeng.

Di hotel tersebut polisi menangkap seorang lagi komplotan Turki. Tugasnya adalah menyalin data nasabah yang sudah terekam kamera di penutup tombol angka ATM.

"Jadi, jangan memencet nomor PIN dengan satu jari, usahakan pakai lima jari bergantian memencet PIN, agar tidak mudah terbaca oleh pelaku skimming," imbau Sugeng.

Dari tangan tersangka, polisi menyita beberapa alat skimming dan kartu-kartu magnetik yang akan digunakan untuk menyalin data korban yang sudah direkam. Polisi juga menyita enam unit laptop dari tiga tersangka.

Laporan bank bahwa kelompok Turki ini telah menguras miliaran rupiah dari aksi kejahatanya. Namun, saat ditangkap, polisi mendapati uang tunai Rp 119 juta dari tangan tersangka.

"Ini sedang didalami kemana mereka larikan uangnya. Juga menelusuri aktivitas laptop mereka dan blank account," ujar Sugeng.

Kelompok Rusia

Rabu (14/3/2018), polisi menangkap dua warga negara Rusia yang diduga melakukan kejahatan perbankan dengan modus skimming.

"Bermula dari kasus penganiayaan di mana kami menemukan kartu ATM bodong dari dompet korban. Setelah diperiksa ternyata dia melakukan skimming," ujar Sugeng.

Polisi lalu mengembangkan dan menangkap rekan pelaku yang juga warga negara Rusia di sebuah hotel di Badung.

"Kami menemukan alat-alat skimming di kamar yang mereka tempati," ujar Sugeng.
Wisatawan asing jadi target

Hasil penyelidikan polisi, para tersangka menargetkan gerai ATM yang banyak dikunjungi wisatawan asing. Bukan tanpa sebab para pelaku menyasar rekening wisatawan asing.

"Alasannya karena orang asing banyak duitnya," kata Sugeng.

Penelusuran sementara mereka bergerak tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Brunei Darussalam. Mereka masuk ke Indonesia dengan menggunakan visa wisata.

Menurut Sugeng, alasan lain pelaku menyasar wisatawan asing adalah karena PIN yang digunakan lebih sederhana, yaitu empat angka. Berbeda dengan nomor PIN bank Indonesia yang menggunakan enam digit angka.

Sugeng mengimbau kepada para nasabah yang ingin mengambil uang dan terhindar dari skimming, selain menekan PIN dengan lima jari, usahakan untuk mencari ATM di keramaian.

"Jangan di tempat sepi dan tidak ada sekuritinya. Karena mereka leluasa beraksi karena tidak ada petugas keamanan yang berjaga," kata Sugeng.

Skimming atau pencurian informasi kartu kredit atau debit dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu sudah merebak sejak 2009. Kejahatan tersebut pun terus mengintai para nasabah hingga kini.

Skalanya pun ternyata sudah begitu meluas. Pada tahun 2015, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri sudah mencatat ada 1.549 kasus. Ini artinya sepertiga kasus skimming di dunia terjadi di Indonesia.

Semakin banyaknya modus kriminal dan pencurian semacam ini, kita harus lebih waspada. Baru-baru ini, Polda Metro Jaya berhasil mengamankan lima pelaku penguras uang nasabah BRI, Caitanovici Andrean Stepan, Raul Kalai, Ionel Robert Lupu, Ferenc Hugyec, dan Milah Karmilah. Mereka diringkus di tempat yang berbeda. (AR News - Kriminal Ekonomi)

Tidak ada komentar

Silah Komen di sini, masukan anda sangatlah berarti.